TGP :: High Performance Motorparts
                 Follow and Find us on
                 Twitter Facebook

0 items
Customer Service:
CS1 TGP

CS2 TGP
Pencarian Produk:            

Registrasi Baru Lupa Password
HomeAbout TGPProduct CatalogTips & TricksContact Us
Tips & Tricks

Ngoprek KTM

Hai OP yang makin sukses!

Salam dari penggemarmu di Pulau Samosir. Aku Irwan. Mungkin sudah hobiku untuk membuat mesin badai. Sekali pun bukan penuh hasil kerja sendiri alias dibantu mekanik kepercayaan. Tapi aku punya sedikit masalah pada kuda besiku. Aku punya Power K100 dari KTM keluaran 2004. Begini:

1. Manakah cara yang lebih baik untuk menaikkan performanya, stroke up atau bore up?

2. Bagaimana cara paling sederhana meningkatkan top speed tanpa harus ganti piston? Sebab di sini terbatas soal spare part?

3. Kenapa ya jika masuk gigi 2 larinya selalu berat dan bagaimana mengatasinya?

Mohon dimuat di edisi selanjutnya ya. Thanks buat OP yang cepat tanggap dengan keluhan penggemar. Sukses selalu. BRAVO!!!

IRWAN CYNAGA
Samosir, Sumatera Utara



Jujur saja pertama kali membaca surat elektronik yang Sobat kirim, OP jadi penasaran. Penasaran dengan penyebutan merek motor KTM dengan tipe Power K100. Sebab pertama KTM yang OP kenal, motor keluaran pabrikan asal Austria ini masuk ke Indonesia baru beberapa tahun ini. Kedua, kalau pun ada yang bertahun lama, biasanya masuk dengan wujud motor-motor MotoX atau minitrail untuk kepentingan balap.

So, karena untuk kebutuhan racing, tenaganya sudah lebih dari cukup jika hanya digunakan harian. Jadi bingung juga kira-kira mau dioprek macam mana lagi mesin dengan spesifikasi yang sudah masuk Special Engine ini.

Makin penasaran, ketika mencari di internet tentang KTM tipe Power K100, OP gak mendapatkan keterangan jelas. Data yang ada malah menunjukkan KTM hanya mengeluarkan 2 tipe motor dengan cc terdekat yakni KTM 105 XC dan KTM 105 SX. Lantas motor seperti apa KTM Power K100?

Beruntung, OP teringat bahwa dulu saat ramainya penjualan motor produksi Cina (Mocin) di tanah air, ada yang membawa nama KTM. Seingat OP iklan tipinya dibintangi Inul si pedangdut. Aha, meski tak tahu secara pasti, OP yakin KTM yang Sobat maksud pasti KTM yang Inul itu. Iya, kan?

Kalau iya, meningkatkan performanya gak susah-susah banget, kok..

1. Cara mana yang lebih baik antara bore up dan stroke up untuk menaikkan performa si KTM, sebenarnya penjelasannya bisa panjang. Tetapi mengingat domisili Sobat di Pulau Samosir yang relatif kesulitan untuk mengakses kebutuhan spare part, maka OP bisa pastikan cara terbaik adalah bore up.

Kenapa OP pilih bore up? Itu karena langkah ini relatif mudah dikerjakan. Mekanik bubut dengan skill rata-rata pun bisa melakukannya. Cukup lakukan bubut blok, ganti liner atau boring sesuai piston yang mau digunakan. Dilanjutkan dengan kolter sesuai piston pilihan.

Proses selanjutnya mengatur rasio kompresi agar tak terlalu tinggi sehingga bisa diberi minum bensin Premium. Proses ini bisa dilakukan lewat mesin bubut ditambah setting oleh mekanik bengkel dengan mengandalkan bor tune. Meski hasil penggarapan tentu kurang rapi karena secara manual, tapi sudah cukup ketimbang rasio kompresi dibiarkan tinggi dan berisiko piston menabrak klep.

Cara bore up tetap relatif mudah dilakukan ketimbang stroke up yang membutuhkan keahlian lebih dari si mekanik penggarap. Butuh ketelitian lebih pula. Menjadi berbeda jika Sobat bisa mendapatkan pen stroker, prosesnya jadi relatif mudah. Tetapi tetap saja untuk memasangnya, butuh mekanik yang benar-benar teliti. Makanya buat Sobat yang berdomisili di Pulau Samosir, sebaiknya hindari stroke up.

Kembali ke bore up. Untuk piston yang bisa dipakai sebaiknya maksimal berdiameter 55 mm. Itu berarti seher Kaze atau ZX oversize 200. Ini karena kesamaan diameter pen seher 13 mm.

Nah, pasti timbul pertanyaan lagi kenapa hanya mentok bore up 55 mm. Padahal kalau Sobat baca tulisan terakhir tentang oprek mesin-mesin C-Series yang biasanya jadi basis mesin rata-rata mocin.

Dari tulisan termutakhir mesin C-series macam Grand dan Supra 100 cc, bloknya bisa dimasuki piston Tiger. Piston dengan diameter 63,5 mm. Kalau pun itu terlalu ekstrem, maka pilihannya adalah memasang seher Sonic atau CS-1 yang berdiameter 58 mm.

Mengapa tidak aplikasi piston CS-1 atau Tiger saja? Sebab langkah dan prosesnya butuh mekanik dengan skill lebih. Sebab butuh proses menggeser center blok (untuk piston Sonic). Atau pun menggeser baut stud (piston Tiger). Mekanik dengan keahlian macam ini ternyata susah Sobat temui di Pulau Samosir.

So, langkah bijaksana adalah mengusung bore up mentok 55 Mei. Cara lebih simpel bahkan bisa ditempuh dengan mengaplikasi seher Kaze standar yang berdiameter 53 mm. Sebab tanpa dibutuhkan ganti liner, Sobat bisa langsung kolter saja.

2. Meningkatkan top speed tanpa harus ganti piston sih bisa-bisa saja. Tetapi langkah ini berisiko karena komponen lain butuh peggarapan lumayan banyak untuk meraih tenaga lebih. Tetapi karena KTM Sobat tergolong mocin, maka sebaiknya maksimalkan komponen yang standar.

Bukan lantas komponen asli mocin KTM ini diutak-atik. Tetapi yang OP maksud adalah mengganti beberapa part dengan milik motor Honda.

Bukan rahasia kalau kondisi spare part bawaan mocin kualitasnya tak sebagus part asli Honda. Jika mau korban lebih, bisa dimulai dengan mengganti cranshaft atau as kruk. Sebab efek perubahannya bisa dengan mudah terasa. Dari getaran mesin yang lebih minim. Begitu pula dengan power yang bisa tersalur ke roda belakang, jadi makin besar.

Jika itu dianggap berat karena harus buka karter tengah, maka pilihannya adalah memperbaiki kopling dan pengapian. Kopling tak hanya kampas kopling tapi juga kopling sentrifugal.

Atau ganti magnet set beserta sepul dengan milik Grand hingga Supra. Trik lain ya ganti CDI nya saja dengan asli Grand atau comot produk Hyperband dari BRT.

3. Keluhan macam ini hampir bisa dipastikan sumbernya dari sistem kopling. Kemungkinan transfer tenaga banyak mengalami slip.

Nah, slip kopling memang mudah kentara pada gigi rendah karena di sini rpm mesin bisa diajak tinggi. Untuk gigi 1 sih tak terlalu terdeteksi karena biasanya gigi 1 hanya digunakan sebagai penghantar rpm saja.

So, cek kampas kopling lebih dulu. Jika ternyata aus dan ini normal mengingat umur pakai motor, maka sekalian ganti dengan produk bawaan Grand atau Supra. Ingat, cek pula kampas kopling sentrifugal motor.


Sumber: OTOPLUS (Rubrik Kontek) Juli 2010
Gambar lengkap dapat di lihat di Tabloid OTOPLUS
































COPYRIGHT 2004-2014 - TGP GROUP   |    PRIVACY NOTICE
     Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. *)